Home » Uncategorized » PEMANFAATAN NILAI-NILAI RELIGI SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH (Studi Kasus Integrasi Nilai-Nilai Religi Masyarakat Banten dalam Pembelajaran Sejarah di SMA)

PEMANFAATAN NILAI-NILAI RELIGI SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH (Studi Kasus Integrasi Nilai-Nilai Religi Masyarakat Banten dalam Pembelajaran Sejarah di SMA)

Dr. Encep Supriatna, M.Pd.
Universitas Pendidikan Indonesia
Email: cepsup@yahoo.co.id

ABSTRACT
The background of this study is the concern over the growing tension between national identity and global culture, especially among young people in Indonesia. Schools as formal institutions developed by the government are considered to play a crucial role in preserving local cultural values by including them as the content of character building in the process of teaching and learning. History, in this context, can become a potential subject, in which nationalism and patriotism are instilled to the students.

This study is a qualitative study using the naturalistic inquiry proposed by Lincoln and Guba (1981). It is mainly aimed at investigating the maintenance of cultural and religious values among senior high school students in Banten. Data are collected through 3 main instruments: (1) interviews with the students, teachers and headmasters of three different senior high schools in Banten, namely SMAN 1 Serang, SMAN 2 Serang, and SMAN 3 Serang, (2) observations of history classes, extracurricular activities and also some ceremonial activities conducted by the local government such as the celebration of Maulid Nabi (The Prophet’s Birthday), (3) document analyses, and (4) literature study.

The results show that the schools have actually inserted the contents of religious and local cultural values in their history instruction. Students still abide by their family tradition that is deeply rooted on the values of Islam and Banten culture. To adjust with the unstoppable globalization and modernity, students are also equipped with various kinds of knowledge accommodated in the curriculum, one of which is the provision of muatan lokal (local content) which is made in line with students’ needs and characteristics.

Keywords: religious and cultural values, senior high school students, naturalistic enquiry, and modernity.

A. Latar Belakang Masalah
Pelajaran sejarah di Sejarah dapat membuka kesempatan bagi siswa untuk melakukan analisis dan mengembangkan analisis terhadap aktivitas manusia dan hubungannya dengan sesama. Agar dapat tercipta atmosfir yang demikian, maka siswa harus dikondisikan untuk aktif bertanya dan belajar (active learning), tidak hanya secara pasif menyerap informasi berupa fakta, nama, dan angka tahun sebagai suatu kebenaran sesuai dengan pandangan konstruktivisme. Menghadapi fenomena era global ini, terdapat beberapa pendapat mengenai posisi pendidikan sejarah, yang tentunya sangat berpengaruh terhadap perkembangan materi dan kurikulum sejarah saat ini. Sesuai dengan perkembangan zaman yang cenderung mengglobal, maka terdapat pendapat yang menyatakan bahwa pelajaran sejarah seharusnya lebih bersifat sejarah yang global dan futuristik agar siswa dapat menyadari peranannya dan dapat berperan dalam kehidupan global (Supriatna, 2012: 10).
Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah siswa memiliki keterampilan berpikir kesejarahan adalah kemampuan yang harus dikembangkan agar siswa dapat membedakan waktu lampau, masa kini, dan masa yang akan datang; melihat dan mengevaluasi evidensi; membandingkan dan menganalisis antara cerita sejarah, ilustrasi, dan catatan dari masa lalu; menginterpretasikan catatan sejarah; dan membangun suatu cerita sejarah berdasarkan pemahaman yang sesuai dengan tingkat perkembangan berpikirnya (Supriatna: 2012:14).
Untuk itu Toffler (1970) seorang futurolog, dalam bidang pendidikan, ia menyarankan untuk membangun “super-industrial education system”. Salah satu ciri utama dari sistem pendidikan macam ini adalah kurikulumnya harus benar-benar mengacu ke masa depan. Sebagai konsekuensinya, mata pelajaran yang tujuan, materi, serta kemampuan yang dikembangkan tidak sesuai dengan ciri di atas, perlu dipertimbangkan untuk dicopot dari kurikulum. Lalu apakah mata pelajaran sejarah termasuk mata pelajaran yang harus disingkirkan dari kurikulum?. Pelajaran sejarah sendiri menurut Toffler (1970: 28) masih dapat diajarkan karena sejarah menurutnya, intinya penanaman rasa waktu (time sense) yang justru penting dalam kehidupan manusia. Tanpa rasa waktu orang akan kehilangan orientasi temporal.
Ini berarti pula, bagi bangsa Indonesia sejarah nasional adalah tempat menggali simbol integritas serta kekuatan ideal sebagai suatu bangsa, akan tetapi memegang peranan penting di masa depan, tanpa perlu berarti mengabaikan arti penting sejarah yang lebih makro (sejarah global), atau sejarah yang lebih mikro (sejarah lokal). Di sinilah perlunya kembali kita menggali nilai-nilai sumber sejarah lokal yang dalam hal ini peneliti, merencanakan penelitian mengenai; “Implementasi pembelajaran Sejarah yang Berbasis Religi”, yang merupakan suatu kajian transformatif pembelajaran yang berbasis nilai-nilai religi di Sekolah Menengah Atas (SMA). Penelitian akan dilakukan mengingat bahwa di Banten sekarang ini terjadi tari menarik antara kehidupan yang religious dengan kehidupan sekuler, begitu juga antara melestarikan budaya lokal dengan kehidupan global yang sudah terlanjur masuk tanpa bisa dibendung. Hal ini menimbulkan kegamangan bagi para generasi muda untuk memegang nilai yang mana yang mereka harus pegang erat. Di sinilah perlunya transformasi nilai-nilai religi dan budaya tradisional tersebut, untuk diadaptasikan dengan kepentingan kehidupan modern sekarang ini.

A. Landasan Teoretis
Rickman (dalam Robinson, 1912: xi-xii) dengan tepat mengatakan ”Sejarah berkaitan dengan rangkaian peristiwa, yang masing-masing memiliki keunikan”, sementara ilmu lain berhubungan dengan seringnya terjadi atau frekuensi kemunculan sesuatu dan tertuju pada generalisasi atau pembentukan keberaturan, yang dipayungi oleh hukum-hukum. James Harvey Robinson berpendapat bahwa: ” Sejarah, dalam arti kata yang luas adalah semua yang kita ketahui tentang setiap hal yang pernah manusia lakukan, atau pikirkan, atau rasakan, (Robinson, 1912: xi-xii).
Pembelajaran sejarah adalah pembelajaran dengan cara menghasilkan atau menyampaikan materi pendidikan dan pengajaran sejarah adalah agar peserta didik mampu: (a) Memahami sejarah, dalam arti memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang peristiwa, memiliki kemampuan berfikir kritis, mengkaji informasi, serta mengkaji setiap perubahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya, (b) Memiliki nilai-nilai perilaku kebangsaan, dalam arti memiliki perilaku kebangsaan akan pentingnya waktu untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya, kesadaran akan terjadi perubahan secara terus menerus kemampuan mengidentifikasi nilai-nilai yang terkandung dalam sejarah, dan (c) Memiliki wawasan sejarah yang bermuara pada kearifan.
Sedangkan menurut Kahmad, (2000: 13), Menurut inti maknanya yang khusus, kata agama dapat disamakan dengan kata religion dalam bahasa Inggris, religie dalam bahasa Belanda-keduanya berasal dari bahasa latin, religio, dari akar kata religare yang berarti mengikat. Sedangkan pengertian addin yang berati agama adalah nama yang bersifat umum. Artinya, tidak ditujukan kepada salah satu agama; ia adalah nama untuk setiap kepercayaan yang ada di dunia ini. Memperhatikan pendapat di atas, di dalamnya terdapat tiga istilah, yaitu: (1) Agama, (2) Religi, dan (3) Ad-Dien (Bahasa Arab). Menurut Saifudin dalam Madjid (1995), dalam arti teknis dan terminologis ketiga istilah tersebut mempunyai arti yang sama, walaupun masing-masing mempunyai etimologis dan sejarahnya sendiri (Madjid. 1992: 13-40).
Sementara itu ahli filsafat Inggris R.H. Spencer dalam bukunya yang berjudul Principles of Sociology (1965) berpendapat bahwa faktor utama dalam agama adalah iman akan adanya kekuasaan tak terbatas, atau kekuasaan yang tidak bisa digambarkan batas waktu dan tempatnya, mengemukakan teorinya tentang asal usul religi. Pangkal pendiriannya mengenai hal itu adalah semua bangsa di dunia itu mulai karena manusia sadar dan takut akan maut. Dalam hal ini pendapatnya sama dengan pendirian ahli sejarah kebudayaan E.B. Tylor (1865) dalam bukunya The Primitive Culture menulis: ”Religion is beliefe in spiritual being; agama adalah keyakinan tentang adanya makhluk spiritual (roh-roh)”. Keyakinan ini merupakan dari kebudayaan animis. Ia juga berpendirian bahwa bentuk religi yang tertua adalah penyembahan kepada roh-roh yang merupakan personifikasi dari jiwa-jiwa orang-orang yang meninggal, terutama nenek moyangnya. Bentuk religi yang tertua ini pada semua bangsa di dunia akan berevolusi ke bentuk religi yang menurut Spencer merupakan tingkat evolusi yang lebih kompleks dan berdiferensiasi, yaitu penyembahan kepada dewa-dewa, seperti dewa kebijaksanaan, dewa perang, dewi kecantikan, dewa maut dan sebagainya. Berdasarkan paparan di atas maka teori tentang agama dan kekuatan gaib itu dapat digolongkan kepada tiga, yaitu (1) teori-teori yang pendekatannya berorientasi kepada keyakinan religi; (2) teori-teori yang pendekatannya berorientasi kepada sikap manusia terhadap alam ghaib atau hal yang gaib; (3) teori-teori yang dalam pendekatannya berorientasi kepada upacara religi, (Tylor, 1865: 58).

B. Metode Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan dipilihnya pendekatan kualitatif ini, karena permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini lebih cocok atau relevan dan akan terungkap jawabannya apabila digunakan dengan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif ini dijelaskan lebih jauh oleh Creswell, (1998: 15) sebagai berikut:
“Qualitative research is an inquiry process of understandiong based on distint methodological traditions of inquiry that explore a social or human problem. The researcher builds a complex, holistic picture, analyzes words, reports detailed views of informants, and conducts the study in a natural setting”,
Metode penelitian kualitatif adalah metode yang menggunakan inquiry dalam proses pemahaman berbeda dengan metode tradisional, yang menggunakan inquiry yang mengeksplorasi masalah sosial dan kemanusiaan. Para peneliti menentukan masalah yang rumit, memberikan gambaran yang utuh, kata-kata yang utuh, dan melaporkan secara detail pandangan informan, dan prosedur penelitian dalam latar yang lebih alami.
Metode penelitian kualitatif sering disebut dengan metode penelitian naturalistik (Lincoln and Guba, 1985) karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting); Selain itu, pengumpulan data penelitian ini dilakukan pada natural setting (kondisi yang alamiah), menggunakan sumber data primer, dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperanserta (participan observation), wawancara mendalam ( In depth interview) dan studi dokumentasi. Pendekatan kondisi yang alamiah ini disebut juga sebagai metode etnografi karena pada awalnya metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya; disebut metode kualitatif karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif (Lincoln and Guba, 1985: 23-24).
Penelitian kualitatif ini memungkinkan dan bahkan menganjurkan penggunaan berbagai teknik pengumpulan data (Creswell, 1998 dan Yin, 1996). Yin (1996) menganjurkan tiga prinsip berkenaan dengan pengumpulan dan penggunaan data dalam kualitatif, yakni (1) penggunaan multi sumber, (2) penciptaan data dasar studi kualitatif, dan (3) pemeliharaan rangkaian terbukti. Sehubungan dengan itu, penggunaan data yang dianjurkan adalah berdasarkan enam data sumber data, yakni: (1) dokumentasi, (2) rekaman arsip, (3) wawancara, (4) observasi langsung, (5) observasi partisipan dan (6) perangkat fisik. Sehubungan dengan hal pengambilan data, dalam penelitian ini maka peneliti akan menggunakan beberapa tiga teknik utama yakni: (1) Teknik Wawancara, (2) Teknik Observasi, dan (3) Pencatatan dan Penggunaan Dokumen. Ketiga teknik pengumpulan data ini akan digunakan untuk memperkaya temuan sekaligus sebagai Triangulasi.

C. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Hasil wawancara dengan siswi SMAN 1 Kota Serang yang bernama Qisthiya Sukma Nazira sebagai berikut. ”Proses pembelajaran sejarah selama ini di kelas cukup baik, gurunya humoris bikin ketawa terus, dan enggak ngebosenin”. Responden kedua yang bernama Rinaldi kelas XI IPS 3 masih dari sekolah yang sama menjawab bahwa (2) ”Proses pembelajaran sejarah selama ini di kelas, sangat baik, karena penyampaian bahan ajar dikemas dengan baik, sehingga siswa dapat mengerti tentang apa yang diajarkan”. Responden selanjutnya dari SMAN 3 Kota Serang yang bernama Devy Sulihati kelas XI IPS menjelaskan sebagai berikut. (3) ”Proses pembelajaran sejarah yang dilakukan oleh guru selama ini di kelas lumayan jelas dalam penyampaian materinya”. Sementara Yuniar kelas XII IPS dari sekolah yang sama, yaitu SMA Negeri 3 Kota Serang mengatakan bahwa ”proses pembelajaran sejarah yang dilakukan oleh guru selama ini di kelas sangat mengasyikan”, dan dapat mengetahui semua sejarah yang ada” Sedangkan responden yang lain dari sekolah yang sama bernama Maya Kholida Fauziyah kelas XII IPS mengatakan bahwa, ”pembelajaran sejarah yang dilakukan oleh guru selama ini di kelas sangat mengasyikan” (Sumber: wawancara dengan Qhistiya, Rinaldi, Devy, dan Maya Kholida siswa-siswi SMAN i Kota Serang).
Begitu juga dengan hasil wawancara dengan siswi SMAN 2 Kota Serang yang bernama Sifatul Ismaniah siswi kelas XII IPS 4 mengatakan bahwa proses pembelajaran sejarah yang dilakukan oleh guru selama ini di kelas menurutnya ”Dalam menjelaskan materi kurang detail dan kurang lengkap’. Sementara siswi yang lain yang bernama Tatu Cholisoh siswi kelas XII/IPS mengatakan bahwa proses pembelajaran sejarah yang dilakukan oleh guru selama ini di kelas prosesnya ”berjalan dengan presentasi dan diskusi, supaya siswa lebih aktif dan mandiri” , masih dari sekolah yang sama siswi yang lain bernama Dian Nur Azizah siswi kelas XII IPS mengatakan bahwa proses pembelajaran sejarah yang dilakukan oleh guru selama ini di kelas, ”lebih banyak menggunakan sistem presentasi dan diskusi”, begitu juga dengan Maya dari sekolah yang sama bahwa ”proses pembelajaran menyenangkan atau tidak, itu tergantung dari guru yang mengajar namun sejauh ini saya rasakan, sangat menyenangkan”, karena metode yang diajarkan sangat efektif dan tidak membosankan (Sumber: wawancara dengan Tatu, Sifatul, Dian dan Maya Siswa SMAN 2 Kota Serang).
Menurut pengakuan kepala sekolah terus berupaya agar SMA Negeri 2 Kota Serang menjadi sekolah berbasis spiritual, di antaranya dengan membiasakan pembacaan asmaul husna, shalat dzuhur berjama’ah, kelas jujur, dan kantin jujur. Kelas jujur yakni setiap ulangan siswa tidak diawasi guru. Selanjutnya suasana religius dari keadaan sekolah tersebut dapat di gambarkan sebagaimana berikut.
(1) Suasana Religius ini dapat didukung dengan menampilkan:
(a) Pembiasaan membaca asmaul husna sebelum masuk kelas pada jam setengah tujuh pagi.
(b) Sholat dzuhur berjam’ah
(c) Mengadakan kelas jujur, (ulangan atau test tanpa diawasi oleh guru)
(d) Mengadakan Kantin jujur, (kantin sekolah tanpa dijaga oleh petugas)
(e) Pembiasaan sholat duha di Musola sekolah.
(f) Memperingati hari besar keagamaan, dengan mengundang penceramah (da’i) dari luar.
(g) Berdo’a sebelum belajar.
(h) Adanya tempat ibadah musola yang cukup besar dan memadai, di depan musola terpampang, ”Ingat Kita Semua akan Mati”.
(i) Setiap guru diarahkan menjadi guru ”agama”, dalam artian setiap guru hendaknya menyisipkan pesan-pesan agama dalam materi pelajarannya.
(j) Tujuh hal harus ditanamkan antara lain sifat; (1) jujur, (2) tanggung jawab,(3) visioner,(4) disiplin, (5) kerjasama, (6) adil, dan (7) peduli. (Sumber: wawancara dengan Bapak Drs. Deni Arif Hidayat, M.Pd.)
Untuk mengetahui lebih dalam mengenai kondisi pembelajaran sejarah di SMA kekinian, peneliti juga mewawancara dengan guru SMA Negeri 2 yang lain yaitu Nengsih Husaeni, S.Pd., yang mengajar mata pelajaran sejarah di kelas XI program IPA-IPS. (1) pada dasarnya siswa itu menunjukkan minat yang besar terhadap pembelajaran sejarah apabila guru dapat mengolah dan menyampaikan materi dengan menarik. Menarik di sini dalam arti bahwa guru dalam kegiatan belajar mengajar senantiasa mencari media atau alat bantu belajar yang sesuai dan cocok dengan materi yang akan disampaikan. (2) Guru dalam proses belajarnya menggunakan metode yang bervariasi, antara lain tanya jawab dan diskusi yang lebih memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi materi dan siswa menjadi aktif.
Untuk menggali pembelajaran sejarah yang dekat dengan lingkungan siswa, (1) Guru biasanya mengadakan studi dan observasi langsung, misalnya membawa siswa ke situs sejarah Banten Lama di Kecamatan Kasemen. Dengan dibawa ke lokasi situs siswa diajak observasi langsung sambil berwisata, sehingga mereka dapat memahami secara komprehensif bukti-bukti Kerajaan Banten dan bukti-bukti kebesarannya yang masih dapat kita saksikan hingga sekarang, bukti-bukti itu antara lain Mesjid Agung Banten Lama, Menara, Reruntuhan Keraton Surosowan, Reruntuhan Keraton Kaibon, Benteng Speelwijk, Bangunan Tiyamah yang dijadikan Museum, serta benda-benda sejarah dan cagar budaya yang tersimpan di Museum Banten Lama. (2) Para siswa diharapkan dengan mengunjungi situs tersebut menurut Nengsih, siswa akan lebih menghargai dan merasa bangga dengan segala yang dimiliki oleh daerahnya. (3) Selain itu siswa juga dapat memaknai nilai-nilai religius dan kepahlawanan dari situs yang dia lihat, (4) bahwa Banten sebagai suatu entitas budaya juga memiliki kebudayaan tersendiri yang berbeda dengan kebudayaan orang lain. Sebagai contoh nilai budaya yang bernuansa keagamaan ”Panjang Muludan”, sementara itu seni budaya yang bernuansa ketangkasan seperti ”Debus”, (terkandung di dalamnya unsur-unsur religi dan keberanian masyarakat Banten).
Berdasarkan hasil wawancara, mengenai nilai-nilai religi yang dapat digali dan ditransformasikan dari sejarah Kawasan Banten Lama. Hasil wawancara dengan Bapak Yudi Yuriansyah, S.Pd., selaku guru di SMAN 1 Kota Serang mengatakan: Unsur nilai yang dapat digali adalah:
(1) kearifan lokal dan
(2) nilai kejuangan, dan
(3) dominannya peran ulama dan kehidupan yang Islami”.
Sementara hasil wawancara peneliti dengan Bapak Sutrisno Harmedi, S.Pd., Guru di SMA 3 Taktakan Kota Serang mengatakan bahwa: ”Nilai-nilai religi yang dapat diangkat dan ditransformasikan dalam pembelajaran sejarah adalah:
(1) Semangat Keagamaan,
(2) Loyalitas pada agama Islam,
(3) Peringatan hari-hari besar agama, dan
(4) upacara selamatan anak.
Sementara hasil wawancara dengan Siti Khodijah, S.Pd., guru sejarah di SMA Negeri 2 Kota Serang mengatakan nilai-nilai religi yang dapat diangkat dalam pembelajaran sejarah adalah:
(1) Nilai religius dan kepahlawanan,
(2) Adanya peringatan upacara keagamaan seperti Panjang Mauludan. Sedangkan untuk aspek budayanya menurut Siti Khadijah, S.Pd., adalah Seni Debus (yang di dalamnya terkandung unsur-unsur religi dan keberanian masyarakat Banten) (wawancara dilakukan tanggal 6 Oktober 2010).
Begitu juga dengan hasil wawancara rekan Siti Khadijah, yaitu Ibu Negsih Husaeni, S.Pd., Guru Mata pelajaran Sejarah di SMA Negeri 2 Cipocok jaya Kota Serang, ketika ditanya mengenai nilai-nilai religi dan budaya yang dapat digali dan ditransformasikan dalam pembelajaran sejarah yaitu.
(1) Nilai religius,
(2) Nilai kepahlawanan,
(3) Adanya upacara tradisional yang sudah berakulturasi dengan ajaran Islam misalnya Panjang mulud.

Gambar 1. Warga Menggotong Panjang Mulud

Sumber: www.google.image.com/serang: 10/9/2012.

Sedangkan nilai budayanya yaitu.
(1) kesenian debus, (yang di dalamnya terkandung unsur-unsur religi dan nilai-nilai keberanian masyarakat Banten).

Gambar 2. Permainan Debus Banten

Sumber: www.google.com, Serang.10/9/2012.
Berdasarkan hasil observasi di kelas terlihat ketika Bapak Sutrisno Harmedi, M.Si. ketika menjelaskan tentang proses penyebaran Agama Islam di Nusantara, yang di dalamnya menyinggung tentang terbentuknya kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam di Nusantara dan salah satunya Kesultanan Banten, peneliti menyaksikan pada saat observasi di kelas, Bapak Sutrisno sebagai guru sejarah menyinggung juga tentang beberapa budaya lokal Banten yang masih dilestarikan di antaranya adalah:
Tradisi ”Muludan”, yang dilaksanakan secara besar-besaran di Banten, dalam bentuk pembentukan panitia khusus dan membuat ”Panjang” yang terbuat dari gabus, kertas, dan rangkanya dari bambu dan berisi makanan, terutama telor asin yang dihias (SH, 5/9/2010).
Untuk menggali pemahaman siswa tentang bagaimana Implementasi pembelajaran Sejarah berbasis nilai religi dan budaya di kawasan Banten Lama peneliti melakukan wawancara dengan siswi yaitu saudari Yuniar dan saudari Devy Sulihati bertempat di ruang tamu SMA negeri 3 Taktakan Kota Serang. Hasil wawancara dengan kedua siswi di atas kedua siswa ini mengatakan;
”Bahwa selama ini proses pembelajaran sejarah sangat mengasyikan”, guru juga senantiasa mengangkat tema-tema pembelajaran yang dekat dengan lingkungan siswa, seperti: Keraton Surosowan, Keraton Kaibon, Benteng Speelwijk, Mesjid Agung Banten dan lain sebagainya. Keberadaan situs ini layak dan cocok untuk dijadikan sumber pembelajaran di kelas, dengan dijadikannya situs ini sebagai bahan materi pembelajaran di kelas dapat mengetahui betapa susahnya orang di zaman dahulu memperoleh kemerdekaan, serta dapat mengetahui nilai kesatuan atau kerjasama untuk meraih kemerdekaan dan mengusir penjajah (Y dan DS, 10/09/2010).
Sedangkan ketika ditanya mengenai contoh nilai-nilai sejarah tersebut keduanya menjawab sebagaimana berikut:
”dapat menjadi contoh meraih kemerdekaan dari kebodohan dan dapat menghargai nilai-nilai sejarah yang ada serta dapat menghargai nilai-nilai sejarah yang ada. Nilai-nilai sejarah tersebut masih cocok dan relevan untuk dijadikan pelajaran sejarah pada masa sekarang yang sudah memasuki jaman modern. Nilai-nilai sejarah yang berbasi religi dan budaya tersebut harus terus dipelihara untuk menjadikan kita lebih baik dengan contoh di kehidupan masa lalu. Nilai tersebut dipelihara dan dijaga untuk menjadikan hidup kita jadi lebih baik lagi atau sebagai wahana dan media pembelajaran (DS dan YNR 07/09/2010).
Mengenai kesenian lain, ada pula yang teridentifikasi kesenian lama (dulu) yang belum berubah, kecuali mungkin kemasannya. Kesenian-kesenian yang belum berubah kecuali kemasannya tersebut berdasarkan pengamatan peneliti dan studi literatur antara lain:
Tabel. 1. Aspek Pembelajaran Sejarah berbasis Budaya
No. Aspek Budaya Keterangan
1. Seni Debus surosowan Kental dengan ketangkasan, patriotik, keberanian dan nilai religi, tapi lebih mengedepankan kekebalan dan magic performance
2. Seni Debus pusaka paku Banten Kental dengan ketangkasan dan kekebalan seharusnya dikemas dalam bentuk seni ketanggasan yang bernuansa religi
3. Seni rudat Ada aspek bunyui-bunyian
4. Seni Terbang Gede Aspek bunyi-bunyian
5. Seni Patingtung Ada aspek bunyian dan suara
7. Seni Saman Ada aspek pujian terhadap Nabi
8. Seni Angklung buhun (Baduy) Ada aspek bunyi-bunyian dari bambu yang dipukul
9. Seni Beluk Ada aspek suara yang dinyanyikan
10. Seni Wawacan Syekh Pembacaan syair barzanzi berupa pujian terhadap Nabi
11. Seni Kasidahan Ada bunyi-bunyian
12. Seni Marhaban Pembacaan syair barzanzi
13. Seni Dzikir Mulud Puji-pujian terhadap Nabi
14. Seni Terbang Genjring Ada aspek bunyi-bunyian
15. Seni Bendrong lesung Ada aspek benda (lesung) yang dibunyikan
16. Seni Gacle Ada seni atraksi dan kata-kata
17. Seni Buka pintu (marhaban) Ada aspek puji-pujian terhadap Nabi

Lanjutan Tabel 2.
18. Seni Tari wewe/genderuwo Ada atraksi dan lagu-lagu
19. Seni Adu bedug/rampak bedug Seni pertunjukan dengan memukul bedug rame-rame dengan nada dan irama tertentu
Sumber: Buku Profil Seni Budaya Banten, 2003.
Gambar 3. Kesenian Rampak Beduk dan Bendrong Lesung

Sumber: www.google.com. Serang:10/9/2012
Untuk menganalisis dan memberikan validasi terhadap data-data hasil Implementasi Pembelajaran sejarah yang berbasis religi dan Budaya tersebut kepada dua ahli yang menyangkut sejarah Banten Lama. Wawancara kepada Bapak Dr. Moh. Ali Fadilah kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Banten, wawancara dilakukan di ruang kerjanya pada hari Selasa, 12 Oktober 2010, pukul 15.30 sampai dengan 17.00 WIB. Menurut Bapak Dr. Moh. Ali Fadilah tentang kondisi kehidupan masyarakat Banten khususnya generasi mudanya ditinjau dari aspek kehidupan religi dan budayanya adalah bahwa:
”….generasi muda mereka bangga sebagai orang Banten dan selain itu mereka juga identitas diri sebagai orang Banten yang memiliki sejarah yang begitu gemilang. Identitas itu senantiasa berinteraksi dan berkembang setiap saat (Wawancara dengan Bapak AF, 12/09/2010).
Ketika disinggung bagaimana upaya masyarakat Banten dalam mempertahankan nilai-nilai religiusitas masyarakatnya yang sudah terkenal sejak lama menurut Dr. Moh. Ali Fadilah menjelaskan sebagaimana berikut.
”…yaitu melalui lembaga keagamaan seperti pesantren yang dibangun pada masa kolonial awal di Banten, pesantren ini terutama di desa-desa yang terdapat kiayi yang kharismatis, bahkan sekarang pesantren yang modern banyak didirikan di kota-kota dengan sistem yang modern. Di Banten ini, disebut orang sebagai daerah ulamanya, sedangkan beberapa kabupatennya disebut sebagai kota santri seperti di Kabupaten Pandeglang” (Wawancara dengan AF, 12/09/2010).
Sedangkan nilai-nilai religi dan budaya yang dapat digali dari khazanah kebudayaan Banten masa lalu, berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan masih dengan bapak Dr. Ali Fadilah, M.A., kepala Balitbangda Bapeda Provinsi Banten ketika ditanyakan mengenai upaya masyarakat Banten dalam memfilter budaya asing yaitu beliau menjelaskan sebagaimana berikut.
”…..melalui berbagai kegiatan keagamaan, di antaranya dengan membaca ritual yasinan setiap malam jum’at dan pada hari-hari tertentu seperti tanggal 12 Rabiul Awal dengan adanya upacara panjang mulud, dengan adanya ritual panjang mulud ini maka silaturahmi antar desa dan antar kecamatan dapat terjalin, peringatan hari 1 Muharram dan juga ”nuzulul qur’an” itu kesemuanya merupakan identitas Islam yang ada di masyarakat Banten” (Wawancara dengan Bapak AF, 12/09/2010).
Berkaitan dengan nilai-nilai religi dan budaya yang esensial adalah sebagaimana beikut.
”……kebiasaan membaca al-qur’an, kebiasaan ziarah kubur untuk mengingat akan mati, kebiasaan berdo’a, rasa hormat terhadap guru-guru, kiayi, alim – ulama cukup tinggi, solidaritas sosial, agama, dan komunitas mereka” (AF, 12/09/2010).
Untuk lebih jelasnya nilai-nilai religi yang masih ada dan dilestarikan, dijalankan oleh masyarakat Banten antara lain:
Nuansa Religius di Masyarakat Banten dengan menampilkan:
(a) Ritual yasinan setiap malam jum’at
(b) Upacara panjang mulud pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal.
(c) Peringatan tahun baru Islam setiap 1 Muharram.
(d) Peringatan Nujulul Qur’an di mesjid-mesjid dan Musolla serta pemerintahan.
(e) Membaca al-qur’an.
(f) Ziarah kubur untuk mengingat akan mati
(g) Kebiasaan berdo’a.
Sedangkan nuansa humanis atau manusia dapat ditampilkan sebagai bagian kultur Banten yang penuh rasa solidaritas antara lain:
(a) Rasa hormat terhadap guru-guru
(b) Rasa hormat terhadap kiayi dan ustad.
(c) Rasa hormat terhadap yang lebih tua
(d) Rasa hormat terhadap orang tua
(e) Hubungan yang erat antara ulama dan umaro
(f) Solidaritas sosial yang tinggi
(g) Rasa keberagamaan yang tinggi
Sedangkan dilihat dari nilai-nilai budaya yang hendaknya dijaga untuk kemudian diwariskan kepada generasi muda Banten adalah:
”…yang pertama ke dwi bahasaan, dalam hal ini (bahasa Sunda dan Jawa Banten) ke dwi-bahasaan in merupakan pengaruh dari dua kesultanan Islam, yaitu Demak Bintoro yang mempengaruhi bahasa Jawa dan Cirebon, sedangkan bahasa Sunda yaitu dari kerajaan Hindu Pakuan Padjadjaran, yang kedua yaitu aspek kesenian, yang merupakan asli Banten yang dapat pengaruh dari agama Islam, Calung renteng Cibaliung, angklung buhun di daerah Banten Selatan (Baduy), dogdog lojor dari Cisungsang Banten Selatan juga, debus, dzikir Saman, dan juga beluk (Wawancara dengan Bapak AF, 12/09/2010).
Gambar 4. Orang Baduy memainkan Angklung Buhun

Sumber: www.google.com, Serang. 10/9/2012
Masih menurut Bapak Dr. Ali Fadilah, M.A. bahwa nilai-nilai budaya yang hendaknya dijaga untuk kemudian diwariskan kepada generasi muda Banten bisa juga melalui:
”…..Melalui lembaga pendidikan formal selain keluarga nilai-nilai religi dan budaya ini di wariskan dalam bentuk Silabus muatan lokal yaitu mata ajar ”kebantenan”, yang di dalamnya menyangkut ritual keagamaan, kepemimpinan, adat istiadat, kesenian dan lain-lain, sesungguhnya di STKIP Setiabudhi telah di Jurusan Pendidikan Sejarahnya di mana saya mengajar di sana sudah mulai ada muatan lokal ”Kebantenan” ini, sementara di Kabupaten Serang yang saya tahu muloknya Bahasa Jawa Serang akan tetapi belum terorganisir dan terstruktur dengan baik, di Banten Selatan bahkan masih menggunakan bahasa Sunda/daerah dengan menggunakan buku-buku ragam budaya, semua mualatan lokal tapi dapat disispkan pada mata pelajaran yang ada irisannya misalnya, pelajaran sejarah, bahasa, agama, atau bahkan menjadi mata pelajaran tersendiri (Wawancara dengan Bapak AF, 12/09/2010).
Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan mengenai nilai-nilai religi tersebut pada akhirnya harus di aktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari siswa atau di sekolah dan masyarakat menurut hasil wawancara dengan Dr. Ali Fadilah, MA., dijelaskan sebagaimana berikut:
(1) Melalui program pemerintah yang harus peduli anak sekolah dengan belajar di luar sekolah untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya.
(2) Melalui out door class system seperti kegiatan Karyawisata sejak mulai Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi, situs yang dikunjungi bisa situs Banten Girang, Banten Lama, tempat Ziarah Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Asnawi di Caringin Labuan.
(3) Memperkenalkan bangunan-bangunan peninggalan kolonial di Kota Serang dan Pandeglang siswa dan siswi dibawa ke lokasi, bisa juga dengan mengunjungi desa adat, daerah ulayat seperti daerah Baduy sebagai wujud apresiasi terhadap keragaman khazanah budaya Banten.
(4) Membiasakannya dalam proses pembelajaran di kelas dapat melalui tugas-tugas tertentu seperti; membuat makalah, bahan ajar, media pembelajaran, gambar foto pahlawan atau pejuang dari Banten, film-film dokumenter tentang kesultanan Banten, film perjuangan masaa VOC atau perjuangan melawan penajajah Belanda dan Jepang yang diperankan oleh siswa dan siswa SMP dan SMA itu sendiri.
Pembahasan Hasil Penelitian
Banten merupakan provinsi yang masyarakatnya terkenal religius. Namun di sisi lain, tak jarang kita temui berbagai paham sinkretis yang mewarnai tingkah laku masyarakat Banten. Salah satu penyebabnya adalah karena masyarakat Banten tidak mudah meninggalkan kebiasaan-kebiasaan nenek moyang mereka (baca: Hindu-Budha). Tingkah laku sinkretis yang diwarisi dari generasi dahulu ke generasi berikutnya ini bahkan telah menginternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya masyarakat Banten tradisional yang memadukan unsur-unsur kepercayaan lama dengan unsur-unsur kepercayaan baru. Masyarakat kota yang mengenyam pendidikan Barat rasional sekalipun masih ada yang percaya pada hal-hal gaib, hal ini sesuai dengan pendapat dari Frazer (1932) bahwa manusia memecahkan beberapa persoalannya hidupnya selalu dengan akal dan system pengetahuan yang dimilikinya. Akan tetapi, kemampuan akal dan sistem pengetahuan terbatas maka manusia pun menggunakan magis atau ilmu ghaib, dalam pandangan Frazer semua tindakan manusia untuk mencapai maksud melalui kekuatan-kekuatan yang ada di alam, serta seluruh kompleks yang ada di belakangnya.
Budaya Banten akan menjadi terintegrasi ke dalam struktur-struktur sebagaimana yang dikemukakan oleh Anthony Giddens (1984) dalam bukunya yang terkenal ”The Constitution of Society”, impersonal maupun kekuasaan, yang dikendalikan oleh segelintir elit atau para profesional lintas-budaya dibawah kendali pemilik modal (corporate) yang menjalankan budaya global, di sisi lain yang disebut suatu bangsa atau masyarakat termasuk masyarakat Banten dan Indonesia hanya eksis dalam tataran ide, gagasan, dan pemikiran, menjadi masyarakat yang ’semu’, masyarakat yang hanya ada dalam bayang-bayang atau pikiran seseorang karena satu sama lain sesungguhnya tidak saling mengenal, itulah masyarakat yang ada hanya dalam ’bayangan’ sebagaimana disinyalir oleh Benedict Anderson (2001) dalam bukunya: ”Imagined Community”, (komunitas-komunitas yang terbayang), mereka hanya diperkenalkan oleh derasnya informasi melalui media cetak dan elektronik yang seakan-akan mereka dekat seperti saudara padahal jauh dan tidak pernah ketemu satu sama lain dan rapuh dari ikatan solidaritas sosial yang sesungghnya satu jiwa (soul) sebagaimana yang disinyalir Ericsson dalam pengertian nasionalisme awal sebelum mengenal industri.
Banten, seperti kebudayaan daerah lain bernasib sama; disatukan dalam kesatuan budaya global dalam homogenisasi gaya hidup yang populer (budaya pop), identitas dan pandangan hidup. Bahkan homogenisasi budaya ini dibuat menjadi suatu keharusan sejarah, dan semua orang dibuat untuk merasa betah hidup di dalamnya, makanan cepat saji dengan minuman coca-colanya, menonton teater, serta pakaian yang serba minim, lagu-lagu yang serba ’indie’, belanja di supermarkat atau mall, pembayaran dengan memakai kartu kredit tinggal gesek, semua merupakan produk global, begitulah potret anak muda di Indonesia tak terkecuali di Banten.
Budaya global berjalan secara perlahan namun pasti untuk memaksa budaya lokal menyerah (the losser) dalam pandangan Paul Kennedy (1995) kita hanya akan menjadi bangsa pecundang karena tidak siap berkompetisi. Situasi ini akan mengakibatkan budaya lokal mengalami kekosongan identitas, kekosongan nilai, di mana budaya lokal akan ditinggalkan, ini dapat terlihat dari semakin tingginya rasa individualisme – yang sebenarnya juga pengaruh dari modernitas. Salah satu bentuk nyata dari globalisasi di Banten adalah berkembangnya apa yang disebut sebagai budaya populer (populer culture) yang tidak lain merupakan wujud dari westernisasi.
Dalam paparan budaya global di atas dapat disimpulkan bahwa budaya global tidak pernah netral. Budaya global mendorong konsumerisme melalui iming-iming kepemilikan dan gaya hidup mewah. Itulah jantung utama dari konsumerisme yang sesungguhnya. Melalui itu secara perlahan terbentuk suatu masyarakat yang memburu kebutuhan hidupnya demi status dan gaya hidup. Budaya global disemai dalam globalisasi, saling kait mengkait menciptakan gaya hidup konsumerisme di masyarakat yang mampu melumpuhkan kekuatan kultural dan sosial suatu bangsa, khususnya di Banten. Budaya global membawa sebuah ambivalen yang tidak sederhana, mereka mempertentangkan dua kekuatan, yakni kekuatan lokal dan kekuatan modal (kapitalisme). Kekuatan modal adalah merupakan gerakan homogenisasi, menciptakan budaya dan masyarakat dunia yang lebih homogen dalam rangka menciptakan pasar produk-produk kapitalisme dunia (Taufik ER, 2000:70).
Adapun kekuatan lokal adalah kelompok yang bertujuan untuk menghidupkan atau menumbuhkan kembali budaya dan nilai-nilai lokal. Munculnya gerakan pecinta local wisdom ini merupakan wujud resistensi dan mekanisme mempertahakan diri (oposisi Binner) terhadap homogenitas masyarakat dunia, sebagaimana yang disinyalir oleh Edwar Said (1978) dalam bukunya yang monumental ”Orientalisme”, jadi menurut Said bahwa setelah bangsa-bangsa di Asia dan Afrika merdeka dari penjajahan bangsa Barat mereka ternyata belum merdeka dari segi keilmuan, karena mereka bangsa yang baru merdeka ini masih harus belajar dari negeri Barat yang telah menjajahnya, padahal di Timur sendiri sesungguhnya terdapat ajaran-ajaran besar dari para filosofis kenamaan pada jamannya baik dari Islam maupun persia, dan India dengan Hindu-Budhanya atau konfusianisme di Cina.
Kebudayaan Banten dapat dikatakan sebagai integrasi dari sekian banyak komunitas yang demikian majemuk yang kemudian membentuk suatu kebudayaan kosmopolit hal ini sejalan dengan teori dari R. Linton (1984) mengenai akulturasi budaya. Menurutnya di dunia ini hampir tidak ada satu faktor tertentu yang mempengaruhi perubahan sosial dan budaya. Banyak komunitas ”memberi kontribusi” pada berkembangnya kebudayaan Banten. Untuk membuktikan hal itu, peneliti akan melihat dari dua unsur budaya (1) Budaya fisik material dan (2) Seni pertunjukkan masa-masa tertentu di Banten.
D. Penutup
Implementasi pembelajaran sejarah yang berbasis nilai-nilai religi yang merupakan suatu kajian transformatif nilai-nilai religi dan budaya dalam pendidikan sejarah di Sekolah Menengah Atas, yaitu dengan cara siswa dan siswi yang belajar tentang materi sejarah yang berkaitan dengan sejarah lokal melalukan studi dan observasi langsung ke situs nama benda cagar budaya Banten itu berada, dengan cara observasi langsung ke situs cagar budaya yang ada di sekitar lingkungan siswa atau bisa juga dengan cara memgkaitkan materi pelajaran yang tertera di buku atau di kurikulum dengan konteks sekarang atau dengan pemberian tugas menyusun makalah, sebelumnya mereka diminta melakukan observasi ke tempat-tempat tertentu. Untuk menuju kegiatan observasi dan studi langung ini dilakukan dengan empat tahap, yaitu (1) Tahap orientasi di mana guru memberikan arahan kepada siswa tentang apa saja yang mereka harus lakukan di lokasi situs itu berada, (2) Tahap perumusan masalah dan pemilihan materi dan bahan ajar dan sumber pembelajaran, pembuatan instrumen pengumpulan data termasuk di dalamnya pemilihan tema-tema yang harus dicari dan di gali oleh siswa di lapangan, (3) Tahap pelaksanaan, pada tahap ini guru sebagai pembimbing dan siswa sebegai pebelajar terjun langsung ke lapangan melakukan observasi terhadap benda-benda yang terdapat di situs benda cagar budaya Banten tersebut, dan terakhir (4) Tahap penyusunan laporan, pada tahap ini siswa diminta untuk melakukan menyusun hasil kegiatan di lapangan dalam bentuk makalah, yang terdiri atas Pendahuluan, isi dan kesimpulan. Dengan dibawa langsung ke lapangan maka siswa dapat menghargai dan memelihara budaya lokalnya sebagai bagian dari budaya nasional.
Peranan pembelajaran sejarah dengan memanfaatkan nilai-nilai Religi di Kawasan Banten Lama serta aktualisasinya dalam kehidupan sehari-hari Siswa di sekolah bermacam-macam. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti di lapangan untuk sekolah SMA Negeri 2 Kota Serang aktualisasi nilai-nilai religi dalam kehidupan sehari-hari siswa yaitu dengan diadakannya pembiasaan dzikir asmaul husna dan tausiah dalam seminggu dua kali yaitu hari Rabu dan Jum’at di halaman sekolah sebelum masuk kelas selama 45 menit. Disisipkannya materi Imtak dalam semua materi pelajaran tidak hanya pelajaran agama. Masih berkaitan dengan dampak atau peranan aktualisasi nilai-nilai budayanya dalam bentuk pemahaman dan pengertian kepada siswa akan pentingnya pelestarian situs cagar budaya, mempelajari, memahami dan mengembangkan serta mewariskannya kepada generasi yang akan datang.
Daftar Pustaka

Anderson, B. (2001). Imagined Community. Yogyakarta: Penerbit Insist bekerjasama dengan Pustaka Pelajar.

Creswell, John W. (1998). Qualitatif Inquiry and Research Design Choosing

Frazer, J.G. (1932). The Magic Art and Evolution of King. Vol 2. London: Routledge & Kegan Paul.

Giddens, A. (1984).Constitution of Society. New York Itacha.Sage Publication.

Guba, E.G. & Lincoln, Y. S., (1985). Naturalistic Inquiry. California, Beverly Hills: Sage Publications.

Kahmad, D. (2000). Sosiologi Agama. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.

Kennedy, P. (1995). Menyiapkan Diri Menghadapi Abad Ke-21. Diterjemahkan oleh Maimoen S. Jakarta: yayasan Obor Indonesia.

Linton, R. (1984). Antropologi: Suatu Penyelidikan Manusia. Diterjemahkan oleh Firmansyah. Bandung: Jemars.

Madjid, N.(1992). Islam Doktrin dan Peradaban Jakarta : Penerbit Yayasan Wakaf Paramadina.

Robinson, J.H. (1912). The New History. New York: Free Press.

Said, Edward W. (1978). Orientalism: Western Representations of the Orients, London: Routledge & Kegan Paul.

Supriatna, E. (2012). Implementasi pembelajaran sejarah Berbasis Religi dan Budaya di Kawasan Banten Lama, Bandung: Disertasi Sekolah pasca Sarjana UPI: tidak Diterbitkan.

Spencer, H. (1965). The Man versus the State. Caldwell, Idaho: Caxton.

Taufik ER, & Ahmad I. (2010). Denyut Budaya Banten. Serang: Leppemas STIE Banten.

Tim Penyusuan Subdin Kebudayaan, (2003). Profil seni Budaya Banten. Serang: Dinas Pendidikan Provinsi Banten.

Toffler, A. (1970). Future Shock. London: Hazel Watson & Viney Ltd. Aylesburry, Buck.

Tylor, E.B. (1865). Primitive Culture. New York: Happer Torchbooks.

Yin Robert, K. (1996). Case Study Research, Design and Methods. Beverly-hills: Sage Publication.

Sumber dari Makalah dan Wawancara :

Tihami, M.A. (2004). Khazanah Budaya Banten. Serang: Makalah disampaikan pada Seminar Sejarah dan Kebudayaan Banten, Pusat Kajian Sejarah dan Budaya STAIN “SMHB” Serang, 1-Juli-2004.
Wawancara dengan Bapak Dr. Ali Fadilah bulan Oktober 2009
Wawancara dengan Bapak Drs. Deni Arif Hidayat, M.Pd. bulan Oktober 2009
Wawancara dengan Ibu Negsih Husaeni, S.Pd. bulan Oktober 2009
Wawancara dengan Ibu Siti Khodijah, S.Pd. bulan Oktober 2009
Wawancara dengan Bapak Yudi Yuriansyah, S.Pd., bulan Oktober 2009
Wawancara dengan Bapak Sutrisne Harmedi, S.Pd., bulan Oktober 2009
Wawancara dengan Siswa dan Siswa SMAN 1, 2 dan 3 Kota Serang yaitu: Maya Nurkholida, Qhistiya Sukma Nazhira, Rinaldi, Devy Solihati, Yuniar, Dian Nur Azizah, Tatu Kholisoh, pada bulan November 2009.
Sumber Internet:
Gambar-gambar (2012) [On line] tersedia di : www.google.com diunduh 10 September 2012.


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *